Arch Efan
Architecture & Design
DonkeyMails.com: No Minimum Payout Aurabila store Visit Indonesia Year 2008 Adsense Indonesia
SIAP MEMBANTU JASA ARSITEKTUR-LANDSEKAP-INTERIOR-3D DESAIN-ESTIMASI

Jumat, 18 Februari 2011

KEJAYAAN KERAJAAN SRIWIJAYA 1

Kerajaan-kerajaan Awal di Nusantara

Setelah tulisan atau aksara mulai digunakan di Nusantara, maka perjalanan sejarah di bumi Nusantara memasuki lembar baru, yaitu babak sejarah. Sumber sejarah Indonesia di masa-masa awal (purba) sangatlah terbatas jumlahnya. Sumber sejarah dalam negeri yang ada hanya berupa benda-benda temuan bersifat artefaktual, khususnya batu bertulis atau prasasti, namun yang cukup membantu adalah adanya sumber-sumber asing berupa berita atau catatan-catatan (kronik) terutama dari Cina, India, dan juga Arab.

Diberitakan, setelah hubungan pelayaran dan perdagangan dunia ketika itu khususnya di wilayah Asia semakin ramai, dengan ditemukannya jalur laut antara Romawi dan Cina. Rute baru jalur laut hubungan dagang antara Cina dengan Romawi itu, nampaknya telah mendorong pula hubungan dagang pada daerah-daerah yang dilalui, termasuk wilayah Nusantara. Karena posisi Nusantara yang strategis di tengah-tengah jalur hubungan dagang Cina dengan Romawi, maka terjadilah hubungan dan transaksi dagang antara Nusantara dengan Cina dan juga India.

Melalui hubungan dagang antara Nusantara dengan India, maka secara lambat laun budaya dan agama Budha-Hindu masuk, dianut oleh para raja-raja dan bangsawan, kemudian tersebar di Nusantara. Berawal dari keluarga raja dan para bangsawan itulah agama Budha-Hindu tersebar luas sampai ke lingkungan rakyat biasa.

Dalam sejarahnya, penyiaran budaya dan agama Budha lebih dahulu masuk ke Nusantara dibandingkan dengan budaya dan agama Hindu. Tersiarnya ajaran Budha di Nusantara itu, diperkirakan sejak abad ke-2 Masehi, dibuktikan dengan penemuan beberapa patung batu, beberapa diantaranya ditemukan di Palembang. Sejak masuknya pengaruh budaya dan agama Budha-Hindu di Nusantara, maka semula masyarakatnya hanya mengenal sistem suku atau kepala suku (interpares), lambat laun berganti dengan sistem raja atau kerajaan.

Kerajaan Kutai

Diawali ketika Prasasti Kutai yang berangka tahun 400 M ditemukan di pulau Kalimantan, maka dapat diketahui bahwa pada saat itulah masa sejarah Indonesia dimulai. Nama prasasti ini disesuaikan dengan nama daerah tempat penemuannya, yakni di daerah Kutai, di hulu sungai Mahakam, Kalimantan Timur. Dari prasasti lain yang berhasil ditemukan di daerah ini, tidak satupun yang menyebutkan nama kerajaan tersebut, sehingga oleh para ahli, kerajaan ini diberi nama kerajaan Kutai dan disepakati merupakan kerajaan tertua di Indonesia.

Kerajaan Kutai mendapat pengaruh budaya dan agama Hindu. Raja-raja Kutai yang dapat diketahui adalah Kudungga (kepala suku yang menjadi raja), Aswawarman, dan Mulawarman. Di masa pemerintahan Mulawarman inilah kerajaan Kutai mengalami masa keemasan, rakyatnya dapat hidup sejahtera dan aman.

Kerajaan Tarumanegara

Setelah ditemukannya Prasasti Kutai, di wilayah Ciaruteun (Bogor), Jawa Barat, juga ditemukan prasasti batu bertulis, dikenal sebagai Prasasti “Batutulis” Bogor, yang tidak terdapat angka tahunnya. Namun dengan perbandingan huruf Pallawa dan bahasa Sanskerta yang digunakan, prasasti ini diperkirakan berasal dari masa ± abad ke-5 Masehi. Pada prasasti itu disebutkan bahwa di daerah ini ada kerajaan yang bernama kerajaan Tarumanegara dengan rajanya yang bernama Purnawarman.

Dalam berita Cina pada masa Dinasti Tang, seorang pendeta Cina yang bernama Fa-Hien pernah terdampar di pantai pulau Jawa (414 M). Selanjutnya dia menuliskan bahwa masyarakat yang dijumpainya itu, telah mendapat pengaruh Hindu dan merupakan masyarakat kerajaan Tarumanegara. Pada Prasasti Ciaruteun, dipahatkan dua buah tapak kaki seperti tapak kaki Dewa Wisnu yang merupakan simbol tapak kaki Purnawarman sebagai raja yang gagah berani.

Menurut Nia Kurnia Sholihat Irfan yang mengutip pendapat Louis Charles Damais, pada awal atau sebelum kerajaan Tarumanegara mendapat pengaruh Hindu, nama kerajaan ini adalah kerajaan Aruteun, mengingat berita-berita Cina yang menyebutkan adanya kerajaan yang bernama Ho-lo-tan (Aruteun).

Kerajaan Holing

Dalam berita Cina lain, masih dalam masa Dinasti Tang, seorang pendeta yang bernama I-tsing menyebutkan sahabatnya pergi ke suatu tempat yang bernama Holing pada tahun 664 M untuk mempelajari agama Budha. Selain itu, juga diberitakan bahwa kerajaan Holing telah beberapakali mengirim utusan ke Cina. Kerajaan Holing tersebut diperintah oleh seorang raja putri yang bernama Ratu Sima. Diberitakan juga dalam menjalankan pemerintahannya, kebijakan Ratu Sima sangat keras, namun adil dan bijaksana.

Lokasi atau letak kerajaan Holing sampai sekarang masih menjadi bahan perdebatan para ahli sejarah. Berdasarkan berita-berita asing, diperkirakan kerajaan Holing terletak di pulau Jawa, yaitu Kalingga di Jawa Tengah atau Keling di lembah sungai Brantas. Namun menurut J.L. Moens, kerajaan Holing itu terletak di Semenanjung Malaka (Malaysia), karena di daerah Malaka ini juga ditemukan sebuah daerah yang bernama Keling.

Terlepas dari keragaman pendapat para ahli sejarah tersebut, yang jelas kerajaan Holing ini diduga kuat terletak di pulau Jawa. Hal tadi didasarkan pada kata She-po yang juga dipakai sebagai nama lain dari Holing, dan kata She-po ini merupakan penyebutan orang Cina untuk nama Jawa.

Kerajaan Bangka

Ketika pendeta I-tsing, berdasarkan catatan perjalanannya tahun 685 M, urut-urutan negeri dari barat ke timur, dituliskan nama Mo-ho-hsin sesudah Shih-li-fo-shih (Sriwijaya) dan sebelum Ho-ling. Artinya, Mo-ho-hsin terletak di antara Sriwijaya dan Holing. Menurut Nia Kurnia Sholihat Irfan, setidak-tidaknya pelayaran dari Sriwijaya ke Holing harus terlebih dahulu melalui tempat yang bernama Mo-ho-hsin.

Para ahli sejarah masih belum sampai pada kata sepakat dalam mengidentifikasi tentang Mo-ho-hsin. Namun, berdasarkan Prasasti Kota Kapur yang ditemukan di pantai barat pulau Bangka menunjukkan, pada abad ke-7 Masehi di daerah ini terdapat sebuah negeri taklukan Sriwijaya yang cukup penting, sehingga raja Sriwijaya merasa perlu untuk menempatkan salah satu prasasti persumpahannya di pulau Bangka.

Sampai sekarang memang belum dapat dipastikan terjemahan yang tepat terhadap kata Mo-ho-hsin. Menurut Nia Kurnia Sholihat Irfan, besar kemungkinan kata Mo-ho-hsin berhubungan dengan kata Sanskerta, moha, yang berarti “bingung” atau “linglung.” Dengan demikian, mungkin bukan suatu kebetulan jika sekarang pulau ini bernama Bangka, karena dari sana timbul istilah tua-bangka yang biasanya ditujukan kepada orang yang sudah tua dan bingung.

Kerajaan Seputih

Pada catatan pendeta Fa-Hsien (414 M), diberitakan kapal yang ditumpanginya terdampar di negeri yang bernama Yeh-po-ti. Identifikasi para ahli sejarah tentang negeri ini juga masih simpang-siur.

Adalah G.E. Gerini berpendapat bahwa Yeh-po-ti terletak di pantai timur Sumatra, namun lokasi tepatnya tidak dijelaskan. Nia Kurnia Sholihat Irfan berpendapat bahwa Yeh-po-ti adalah terjemahan dari nama Seputih, daerah sekitar Way Seputih, daerah pantai timur Lampung. Menurut data arkeologi, di daerah ini pernah berkembang suatu negeri, yaitu dengan ditemukannya lingga dan arca Hindu yang besar dan patung Dewi Hindu. Pada abad ke-7 Masehi, kerajaan Seputih ini sudah berada dalam taklukan kekuasaan Sriwijaya.

Kerajaan Talangpedang

Dalam berita Cina tercatat dua buah negeri yang dituliskan berurutan, yakni To-lang dan Po-hwang, sebagai nama negeri di “Laut Selatan”. Oleh Gabriel Ferrand pada tahun 1918, kedua nama itu digabungkan menjadi satu menjadi To-lang-po-hwang. Lalu lokasinya dinyatakan di Tulangbawang (sekarang Lampung Utara). Argumen Gabriel itu tidak lebih dari dugaan semata, karena hingga kini tidak ada bukti data arkeologis yang mendukung pendapat ini. Menurut pendapat beberapa peneliti sejarah, To-lang dan Po-hwang merupakan dua nama tempat yang berbeda.

Kemungkinan yang lebih mendekati adalah nama To-lang mungkin ada hubungannya dengan Talangpedang, nama daerah yang sekarang terletak di sebelah barat Tanjungkarang, Lampung. Di Talangpedang ditemukan data arkeologis yang masih memerlukan penelitian lebih lanjut. Namun yang jelas, setelah Talangpedang ditaklukkan oleh Sriwijaya, namanya kemudian menghilang atau tidak disebut-sebut lagi dalam berita-berita Cina selanjutnya.

Kerajaan Bawang

Berita Cina menyebutkan negeri Po-hwang mengirim utusannya pada tahun 442 M, 449 M, 451 M, 459 M, 464 M, dan 466 M. O.W. Wolters dari Universitas Cornell berpendapat, nama Po-hwang merupakan terjemahan dari nama Bawang, namun tidak disebutkan lokasi tepatnya.

Di daerah Bawang, negeri Sekala Bekhak, Lampung Utara, telah ditemukan prasasti persumpahan Sriwijaya. Hal ini membuktikan bahwa di daerah Bawang dahulu pernah ada sebuah negeri yang cukup penting. Pada abad ke-5 Masehi, kerajaan Bawang (Po-hwang) itu, berkali-kali mengirim utusan ke negeri Cina. Namun setelah kerajaan Bawang ditaklukkan Sriwijaya pada abad ke-7 Masehi, namanya juga menghilang dari catatan-catatan musafir Cina.

Kerajaan Melayu

Khusus di wilayah pulau Sumatra, menurut catatan I-tsing, disebutkan bahwa pada tahun 671 M di Jambi atau lebih tepatnya di tepian sungai Batanghari, merupakan pusat kerajaan Melayu. Kronik atau catatan Hsin-tang-shu pernah mencatat ada utusan dari negeri Mo-lo-yu (Melayu) datang ke istana kekaisaran Cina pada tahun 644-645 M.

Walaupun menurut catatan I-tsing, Kerajaan Melayu pada abad ke-7 M secara politik telah tunduk dan berada dalam kekuasaan kerajaan Sriwijaya. Berdasarkan catatan dan peninggalan-peninggalan sejarah yang ada seperti keberadaan kompleks percandian di Muaro Jambi, merupakan kompleks percandian terluas di Indonesia, tidak dapat dipungkiri kerajaan ini merupakan kerajaan yang cukup penting dan berpengaruh khususnya di Sumatra kala itu, terutama setelah masa keemasan kerajaan Sriwijaya mulai memudar. Dengan kata lain, dapat dikatakan bahwa Jambi tidak dapat dipisahkan dari kebesaran kerajaan Melayu, baik kerajaan Melayu kuno (pra-Sriwijaya) maupun kerajaan Melayu setelah masa Sriwijaya.

Berdasarkan penelitian geomorfologi terhadap pantai timur Sumatra yang dilakukan oleh tim Dinas Purbakala Indonesia tahun 1954, pada kurun waktu abad ke-7 Masehi, wilayah Jambi dan Palembang masih terletak di tepi laut. Posisi Palembang dan Jambi hari ini adalah karena terjadinya proses sedimentasi selama berabad-abad. Hasil penelitian itu sangat mendukung keberadaan kerajaan-kerajaan besar, seperti kerajaan Melayu dan Sriwijaya, memang memiliki posisi yang sangat strategis bagi akses dunia pelayaran atau perdagangan jalur laut internasional kala itu.

  • SELANJUTNYA Kemunculan dalam Pentas Sejarah
  • Share it

    Entri Populer

    CATATAN,ILMU,SEJARAH ARSITEKTUR