Arch Efan
Architecture & Design
DonkeyMails.com: No Minimum Payout Aurabila store Visit Indonesia Year 2008 Adsense Indonesia
SIAP MEMBANTU JASA ARSITEKTUR-LANDSEKAP-INTERIOR-3D DESAIN-ESTIMASI

Jumat, 18 Februari 2011

KEJAYAAN KERAJAAN SRIWIJAYA 4

Perkembangan Wilayah Kekuasaan

Ketika kerajaan Sriwijaya mulai berdiri, wilayah kekuasaannya masih terbatas pada sekitar Palembang sekarang. Menurut Nia Kurnia Sholihat Irfan, letak Palembang pada abad ke-7 Masehi kurang menguntungkan jika ditinjau dari lalu-lintas pelayaran dan perdagangan. Pelabuhan yang letaknya strategis adalah pelabuhan Melayu di Jambi. I-tsing mengatakan bahwa kapal-kapal yang berlayar ke negeri Cina, umumnya melalui pelabuhan Kedah dan Melayu. Dari Melayu kapal-kapal itu berlayar ke utara menuju Kanton (Cina). Namun, berdasarkan catatan I-tsing pula, ketika ia datang untuk yang kedua kalinya, kerajaan Melayu sudah dalam kekuasaan kerajaan Sriwijaya.

Awalnya Sriwijaya hanya disinggahi oleh para pendeta Cina untuk urusan keagamaan, karena Sriwijaya mampu mengembangkan diri sebagai pusat kegiatan agama Budha. Pendeta-pendeta Cina berziarah ke Sriwijaya untuk mempelajari bahasa Sanskerta atau menerjemahkan naskah-naskah Budha. Menurut I-tsing, di Sriwijaya berdiam seorang guru agama Budha yang termasyur, ia bernama Syakyakirti. Dikatakan juga bahwa di Sriwijaya terdapat lebih dari 1.000 pendeta agama Budha yang rajin mempelajari dan meneliti ajaran Budha. Para pendeta tersebut mempelajari seluruh masalah secara nyata seperti di India. Oleh karena itu, pendeta I-tsing yang ingin pergi ke India, belajar di Sriwijaya dulu baru pergi ke India.

Pada awalnya, perkembangan bidang keagamaan di Sriwijaya, lebih maju dibandingkan dengan perkembangan ekonomi dan perdagangan. Sedangkan di Melayu dan Kedah, perkembangan ekonomi dan perdagangan lebih menonjol, dibandingkan dengan perkembangan agama, karena memang Melayu dan Kedah memiliki pelabuhan yang lebih strategis di Selat Malaka. Maka, satu jalan untuk mengembangkan negerinya, Sriwijaya mau tidak mau harus menguasai atau menaklukan Melayu dan Kedah. Tetapi sebelum menaklukkan Melayu dan Kedah, strategi kerajaan Sriwijaya adalah menguasai daerah di sekitarnya terlebih dahulu seperti Bangka, Tulang Bawang, baru Melayu, dan Kedah, sampai ke Kepulauan Riau dan Lingga. Bahkan sampai ke pulau Jawa, seperti yang tercantum dalam Prasasti Kota Kapur.

Penaklukkan atau ekspansi awal yang dilakukan Sriwijaya adalah terhadap negeri-negeri yang terdekat dengan Sriwijaya. Setelah menundukkan Bangka, Lampung juga dapat dikuasai. Bukti Bangka dan Lampung pernah menjadi daerah kekuasaan Sriwijaya ditemukannya prasasti-prasasti persumpahan di daerah tersebut, yaitu Prasasti Kota Kapur di Bangka dan Prasasti Palas Pasemah di Lampung.

Setelah Bangka dan Lampung takluk, maka Sriwijaya terus memperluas ruang lingkup wilayah ekspansinya atas daerah-daerah sekitar dengan menguasai Melayu, penaklukkan ini bertujuan untuk menguasai pelabuhan-pelabuhan Melayu di Selat Malaka yang saat itu memang mempunyai fungsi yang sangat strategis untuk mengembangkan perekonomian Sriwijaya.

Menurut Nia Kurnia Sholihat Irfan, penaklukkan kerajaan Melayu oleh Sriwijaya diperkirakan terjadi sebelum tahun 682 M, sebab pada tahun 682 M tentara Sriwijaya sudah menguasai Minanga (Binanga), sebagaimana tercantum dalam Prasasti Kedukan Bukit. Dalam prasasti itu disebutkan bahwa Dapunta Hyang berangkat dari Minanga dengan diikuti 20.000 balatentara. Dengan penguasaan negeri Melayu dan Minanga, maka daerah pantai timur Sumatra praktis telah berada dalam pengawasan kerajaan Sriwijaya.

Bahwa negeri Melayu sudah benar-benar ditaklukkan oleh Sriwijaya, terbukti dengan ditemukannya prasasti persumpahan, yaitu Prasasti Karang Berahi di Jambi, serta pernyataan I-tsing, ketika pulang dari India tahun 685, negeri Melayu sudah menjadi daerah kekuasaan Sriwijaya.

Kedah menjadi korban berikutnya, setelah menaklukkan Melayu, Sriwijaya menyeberang dari Selat Malaka untuk menduduki Semenanjung Malaka. Sasaran utamanya adalah negeri Kedah yang cukup ramai disinggahi oleh para pedagang asing. I-tsing mengatakan ketika ia pulang dari India tahun 685, Kedah sudah menjadi kekuasaanya kerajaan Sriwijaya.

Sriwijaya juga menguasai daerah Muangthai Selatan (775 M). Hal ini dibuktikan dari keterangan Prasasti Ligor yang ditemukan di Tanah Semenanjung Melayu (Thailand Selatan). Dalam Prasasti tersebut disebutkan seorang raja Sriwijaya memerintahkan pembuatan bangunan-bangunan Budha.

Tahun 686 M, tentara Sriwijaya berangkat menyerang pulau Jawa. Pada waktu itu, kerajaan Taruma di Jawa Barat masih berdiri, sebab masih mengirimkan utusan ke negeri Cina pada tahun 669 M. Setelah ada penyerangan pasukan Sriwijaya tahun 686 M, nama Taruma juga menghilang dari catatan kronik Cina. Diperkirakan kerajaan Taruma juga menjadi korban ekspansi Sriwijaya. Setelah kerajaan Taruma sebagai pintu masuk ke pulau Jawa dikuasai, Sriwijaya juga dapat menaklukkan kerajaan di Jawa Tengah.

Dengan menguasai Selat Malaka, Selat Sunda, dan Laut Jawa. Sriwijaya mulai mendominasi jalur pelayaran dan perdagangan internasional saat itu. Setiap pelayaran dari Asia Barat dan Asia Timur atau sebaliknya. Mau tidak mau harus melewati teritorial kerajaan Sriwijaya.

Penguasaan Sriwijaya atas jalur pelayaran strategis selama berabad-abad tentu harus didukung dan dilindungi oleh pasukan armada yang kuat. Pasti, Sriwijaya harus menguasai teknologi perkapalan dan ilmu navigasi.

Dengan penguasaan jalur pelayaran strategis dan mendominasi perdagangan, jelas menguntungkan kerajaan Sriwijaya untuk menarik pajak-pajak dari kapal yang masuk di wilayahnya. Pundi-pundi yang mengisi kas kerajaan Sriwijaya menjadi besar dan kaya. Dampaknya, rakyat Sriwijaya dibebaskan dari segala macam pajak kepada negara.

Apalagi sejak bertahtanya Raja Balaputra Dewa, bidang sosial budaya, politik, agama di kerajaan Sriwijaya berkembang sangat pesat. Balaputra Dewa menjalin hubungan baik dengan kerajaan-kerajaan besar seperti kekaisaran Cina, dan India. Hubungan itu bertujuan untuk meningkatkan taraf kehidupan sosial masyarakatnya. Selain itu, Balaputra Dewa berusaha meningkatkan taraf kehidupan masyarakatnya melalui pendidikan. Hal ini dapat dibuktikan melalui Prasasti Nalanda di India Selatan yang menyebutkan terdapat pelajar dan mahasiswa dari kerajaan Sriwijaya yang belajar berbagai ilmu pengetahuan di Nalanda. Juga, adanya seorang guru besar agama Budha di kerajaan Sriwijaya yang bernama Dharmakirti. Dengan pengembangan pengetahuan itu secara jelas membuktikan bahwa tingkat kehidupan sosial ini pun akan mempengaruhi kehidupan dan perkembangan kerajaan Sriwijaya.

Pemerintahan, Militer, dan Sosial

Secara teritorial, wilayah kekuasan Sriwijaya dibagi menjadi kedatuan dan perdatuan. Daerah-daerah inti milik raja (samaryyada) sendiri terletak di sekitar ibukota disebut kedatuan yang diperintah oleh datu yang bergelar nisamwardhiku. Datu yang berasal dari lingkungan keluarga raja sendiri ini kedudukan mereka langsung di bawah raja. Mereka ini dianggap berbahaya bagi kedudukan dan kelanggengan kekuasaan raja, karena mereka mempunyai hak warisan yang sah dari raja yang sewaktu-waktu dapat digunakan sebagai alasan untuk merebut mahkota kerajaan.

Sedangkan daerah-daerah yang pernah ditaklukkan oleh raja disebut perdatuan. Perdatuan ini diperintah juga oleh seorang datu dengan gelar nilagalarku. Datu yang bergelar nilagalarku bukan anggota keluarga raja. Namun, mereka diberi otonomi untuk menjalankan basis kekuasaannya sendiri di wilayah perdatuan tersebut. Ia tidak di bawah perintah seorang pejabat dari pusat yang menduduki daerahnya dengan kekuatan senjata (militer), namun diberi ancaman kutukan yang mengerikan bagi mereka yang tidak setia kepada raja Sriwijaya, seperti yang tertulis dalam Prasasti Kota Kapur dan Prasasti Telaga Batu.

Secara teritorial, wilayah laut tempat kelompok-kelompok bajak laut (nomad laut) yang otonom juga dimasukkan dalam sistem perdagangan kerajaan Sriwijaya. Para kepala bajak laut itu mendapat bagian yang ditentukan raja dari hasil transaksi perdagangan maritim yang diadakan. Agar kepentingan kerajaan jangan dirugikan, kelompok bajak laut yang menjadi unsur perdagangan inilah yang digunakan oleh raja untuk mengamankan lalu-lintas perdagangan laut. Secara tidak langsung, para bajak laut ini juga merupakan bagian dari sistem pertahanan kerajaan Sriwijaya.

Kronik Chao-ju-kua menceritakan hal ini, Sriwijaya menguasai laut dan mengawasi lalu-lintas perahu-perahu dagang orang asing di Selat Malaka. Jika ada kapal dagang melalui selat ini tanpa singgah, para pedagang asing tersebut acapkali diserang dan dikuasai. Hal inilah, antara lain, yang menyebabkan negeri ini menjadi pusat pelayaran dan perdagangan besar. Diduga penyerangan terhadap kapal dagang asing ini dilakukan oleh bajak laut.

Dibandingkan dengan kerajaan-kerajaan lain di zaman kuno atau klasik Indonesia, Sriwijaya menunjukkan kekhasanya. Prasasti-prasasti Sriwijaya yang berasal dari abad ke-7 dan abad ke-8 Masehi, yaitu masa awal tumbuhnya Sriwijaya yang muncul sebagai satu kekuatan baru. Sebagian dari prasasti-prasasti tersebut mengandung ancaman kutukan yang ditujukan kepada keluarga raja sendiri. Hal diperkirakan karena keluarga yang diancam itu memang berada di luar pengawasan langsung. Mereka adalah anak-anak raja yang diberi kekuasaan di daerah-daerah (datu). Keadaan itu jika benar, menunjukkan satu sikap keras dari raja yang sedang berkuasa. Suatu sikap yang selain keras juga tegas kepada penguasa daerah. Sikap demikian tidak mengherankan untuk suatu negara yang hidup dari perdagangan.

Dari Prasasti Telaga Batu yang diterjemahkan oleh J.G. de Casparis, seorang epigrafer, mencatat adanya suatu struktur pemerintahan, birokrasi, dan stratifikasi sosial pada masa Sriwijaya. Interpretasi dari terjemahan tersebut adalah raja sebagai pemimpin dan penguasa tunggal kerajaan, pemimpin daerah (datu-datu) adalah putra mahkota dan para pangeran, sedangkan pelaksana pemerintahan atau birokrasi adalah hakim, bupati, senapati, mandor, dan juru tulis kerajaan. Sedangkan stratifikasi sosial di kerajaan Sriwijaya, di antaranya, adalah nakhoda, saudagar atau pedagang, pandai logam, tukang cuci raja, budak, nelayan, dan petani di daerah pedalaman yang dikuasai kerajaan.

Menurut P.J. Suwarno, dalam sistem kekuasan kerajaan Sriwijaya, raja tetap memegang otoritas tertinggi. Raja dikelilingi oleh keluarganya sebagai bawahan dan stafnya. Mereka itu adalah yuwaraja (putra mahkota), pratiyuwaraja (putra raja kedua), rajakumara (putra raja ketiga), dan rajaputra (putra raja keempat). Kedudukan putra mahkota dipisahkan dari para pangeran yang berasal dari istri raja (selir) yang lebih rendah derajatnya dan para pangeran tersebut tidak berhak atas tahta kerajaan. Namun pangeran-pangeran Sriwijaya ini tetap diberi daerah-daerah kekuasaan milik raja. Secara hirarkis, mereka diperintah dan menjadi bawahan langsung dari raja.

Sedangkan di lingkungan pusat kerajaan dibentuk administrasi pusat yang terdiri kalangan birokrasi sebagai pelaksana kerajaan. Mereka itu adalah dandanayaka, (hakim raja yang melaksanakan kekuasaan raja untuk mengadili), bhupati (bupati), nayaka (pejabat pemungut pajak), dan prataya (pengurus harta benda milik keluarga raja). Prataya merupakan staf pribadi raja yang penting, sebab dalam Prasasti Telaga Batu disebutkan istilah haji-prataya (prataya raja). Raja memiliki wilayah pribadi di sekitar ibukota yang merupakan basis kehidupan ekonomi keluarga raja. Di antara penghuni ibukota kerajaan adalah para hulun haji (budak raja) yang di bawah pimpinan murdhaka. Penjelasan mengenai jabatan bhupati dalam struktur kerajaan Sriwijaya, tidak dijelaskan, apakah sama fungsinya dengan bupati sekarang.

Pejabat-pejabat lain di pusat kerajaan adalah kumaratya (para menteri yang tidak berdarah bangsawan alias bukan keturunan raja), kayastha (juru tulis kerajaan), sthapaka (elite religius yang menjadi pengawas teknis pembangunan patung-patung dan bangunan suci), tuha an watakwuruh (pengawas perdagangan), dan puhawang (jawatan angkutan).

Pedagang dan pengrajin merupakan pengelompokkan profesi. Mereka dimasukkan dalam organisasi pemerintah yang diawasi oleh tuha an watakwuruh. Mereka mempunyai organisasi yang juga otonom dalam batas-batas pengawasan pemerintah pusat. Mereka mengumpulkan barang dagangan dari hasil kerajinannya yang diawasi dan dikontrol oleh tuha an watakwurah ini dan kemudian baru disalurkan keluar, sehingga para pedagang dan pengrajin mudah memasarkan barang dagangannya. Jabatan tuha wakwurah dan puhawang merupakan salah satu konsekuensi dari sifat komersial kerajaan Sriwijaya.

Di bidang militer, untuk mempertahankan kekuasaannya, raja Sriwijaya membentuk pasukan militer yang digunakan sebagai alat penunjang kewibawaan yang ditegakkan dengan perjanjian-perjanjian dan kutukan-kutukan.

Dalam struktur militer di kerajaan Sriwijaya, komando tertinggi di tangan raja, kemudian pejabat militer di bawah raja adalah parwanda yang tinggal di ibukota kerajaan, pratisara, dan senapati. Walaupun pejabat militer tinggi dalam sistem pertahanan kerajaan, parwanda ini tidak memimpin langsung para tentara, tetapi bertanggung jawab langsung kepada raja. Kalau sekarang, parwanda ini, diperkirakan, fungsinya setingkat dengan menteri pertahanan. Selain jabatan parwanda, pemimpin militer lainya adalah pratisara yang langsung menguasai atau memimpin pasukan atau tentara yang dikerahkan dari hulun-haji (budak). Daerah kekuasaan pratisara ini di kawasan kedatuan yang dipimpim oleh kalangan keluarga raja, sedangkan pemimpin tentara di daerah-daerah taklukan (perdatuan) dipimpin oleh senapati. Baik pratisara maupun senapati ini di bawah pimpinan parwanda.

Integrasi Birokrasi Pemerintahan Pusat-Daerah

Kebijakan birokrasi pemerintah dalam sistem penyaluran komoditas perdagangan menarik rakyat pedalaman untuk mengumpulkan barang dagangannya untuk ditampung di pasar-pasar lokal, kemudian dipasarkan lebih lanjut ke daerah pelabuhan-pelabuhan.

Dari pelabuhan-pelabuhan di pantai timur Sumatra, barang-barang dagangan itu diteruskan ke pasar internasional lewat laut. Maka bagi Sriwijaya, keamanan laut merupakan hal yang penting, dan pelaksanannya diserahkan kepada kelompok-kelompok nomad-laut yang ketua-ketuanya dimasukkan dalam organisasi dagang Sriwijaya. Dengan demikian timbullah jaringan saling ketergantungan antara rakyat di pedalaman dengan pedagang-pedagang di pelabuhan-pelabuhan serta di laut wilayah kekuasan Sriwijaya. Tidak mengherankan kalau hubungan dagang dengan luar negeri berkembang pesat, sebab kebutuhan pokok para pedagang dipenuhi, yaitu keluar masuk komoditas perdagangan dan keamanan pelayaran lancar dan terjaga.

Integrasi itu semuanya terikat pada raja, selain memiliki kekuatan militer yang handal baik di darat maupun di laut, juga memiliki kewibawaan mistis, yang ditegakkan dengan kultus individu sebagai raja, pahlawan militer, kepala suku, dan sebagai sang pemberi kemakmuran kepada rakyat. Untuk keperluan ini; raja antara lain mengadakan pesta yang dihadiri kepala-kepala suku taklukan dan menyembelih seekor lembu untuk memperkokoh ikatan mereka.

Jadi meskipun sudah ada pembagian tugas dalam birokrasi pemerintahan, semuanya masih berpusat pada wibawa raja baik yang bersifat militer, maupun yang bersifat mistis. Semua sistem birokrasi pemerintahan yang ada itu merupakan kepanjangan dari rumah tangga istana raja, bahkan birokrasi pemerintah daerah sebenarnya juga merupakan perpanjangan tangan raja untuk menguasai rakyat. Meskipun rakyat dimasukkan dalam jaringan perdagangan internasional, keuntungan pada dasarnya untuk raja, sedangkan bawahan dan rakyat mendapat bagian dari raja, maka raja juga disebut “bank umum”.

Pola birokrasi pemerintah Sriwijaya ini mungkin dapat disebut sebagai pola birokrasi pemerintah komersial tradisional, sedangkan hubungan daerah-pusat diatur secara otonom seperti yang dikenakan pada perdatuan dan kelompok pedagang serta pengrajin, yang masing-masing mempunyai organisasi otonom dengan pengawasan dari pusat secara magis (kutukan) dan kelembagaan (tuha an watakwurah); dan dekonsentris seperti yang dikenakan pada kedatuan dan kelompok nomad-laut, keduanya tidak mempunyai otonomi, sebab organisasinya digabung dengan organisasi pusat yang langsung di bawah raja.

Raja-raja Sriwijaya

Raja-raja yang pernah berkuasa dan memerintah Sriwijaya sampai saat ini masih menyimpan teka-teki besar. Walaupun begitu, dari hasil interpretasi para peneliti terhadap prasasti-prasasti Sriwijaya, berita-berita Cina, serta catatan-perjalanan orang-orang Arab-Persia telah memberikan sedikit gambaran ihwal para penguasa atau raja-raja yang memerintah kerajaan ini. Paling tidak, sejak tahun 683 Masehi disebutkan dalam Prasasti Kedukan Bukit sampai tahun 1044 Masehi yang tertera pada Prasasti Chola.

Penyebutan tahun yang sama (1044 Masehi) pada tabel di atas, adalah tahun pembuatan Prasasti Leiden dan Chola yang menyebutkan adanya raja-raja Sriwijaya; Sri Sudamaniwarmadewa, Marawiyayatunggawarman, dan Sri Sanggaramawijayatunggawarman, bukan masa kekuasaan ketiga raja Sriwijaya tersebut. Sedangkan berdasarkan naskah kuno Pustaka Rajya-rajya I Bhumi Nusantara Naskah ini merupakan naskah kontroversi karena dianggap tidak otentik sebagai sebuah sumber sejarah, karena naskah ini terkesan telah maju dalam metodologi penulisan suatu karya tulisan sejarah, padahal kebanyakan naskah yang dibuat pada masa itu masih didominasi oleh hal-hal yang berbau mitos, sage, legenda, irasional yang dicampurkan dengan realitas sejarah yang ditulis tahun 1675 Masehi yang dikodifikasi oleh Pangeran Wangsakerta dari Keraton Kasepuhan Cirebon, Jawa Barat yang ditemukan oleh peneliti naskah kuno Atja. Naskah ini kemudian diteliti ulang oleh epilog Edi S Ekadjati dari Universitas Padjadjaran Bandung yang dimuat dalam majalah Analisa Kebudayaan, 1982/1983. Th.III.No.2.

Sayangnya, naskah ini tidak mencantumkan peristiwa yang terjadi (kronologi) serta angka tahun raja-raja Sriwjaya yang berkuasa.

Perekonomian

Salah seorang peneliti perkembangan sejarah Sriwijaya dari segi ekonomi dan perdagangan adalah W. Wolters, seorang guru besar sejarah Asia Tenggara dari Universitas Cornell, Amerika Serikat. Dalam bukunya Early Indonesian Commerce, ia menerangkan bahwa meskipun Sriwijaya terletak di pantai yang penduduknya relatif sedikit, negeri ini mampu mengerahkan sumberdaya manusia dari pemukiman-pemukiman yang tersebar di selatan Selat Malaka. Ia mengatakan, Palembang hanyalah pusat. Tujuan ekspedisi angkatan laut Sriwijaya dengan menaklukkan Kedah dan pelabuhan-pelabuhan vital lainnya bukan sekedar meluaskan teritorial, tetapi untuk menduduki tempat-tempat strategis dalam jalur perdagangan utama. Penguasa-penguasa lokal dibiarkan terus berkuasa sebagai bawahan Sriwijaya.

Penghasilan negara Sriwijaya terutama diperoleh dari sektor perdagangan, seperti komoditas ekspor dan bea cukai bagi kapal-kapal asing yang singgah di pelabuhan-pelabuhan milik kerajaan Sriwijaya. Salah seorang peneliti sejarah Sriwijaya, J.C. van Leur, merinci jenis-jenis komoditas ekspor tersebut, yakni kayu gaharu, kapur barus, cendana, gading, timah, ebony (kayu hitam), kayu sapan, rempah-rempah, dan kemenyan. Sedangkan ke negeri Cina, Sriwijaya mengekspor gading, air mawar, kemenyan, buah-buahan, gula putih, cincin kristal, gelas, kapur barus, batu karang, kapas, cula badak, wangi-wangian, bumbu masak, dan obat-obatan. Barang-barang tersebut bukan produksi Sriwijaya dalam negeri Sriwijaya seluruhnya. Tapi, mungkin ada yang berasal dari pertukaran barang dengan negara lain yang punya hubungan degang dengan Sriwijaya. Catatan Cina, Hsin-tang-shu (sejarah Dinasti Sung), menyebutkan bahwa Sriwijaya kala itu sudah mempunyai 14 kota dagang.

Menurut berita Cina dan berita Arab, komoditas yang diperdagangkan dan berasal dari Sriwijaya adalah cengkeh, pala, kapulaga, lada, pinang, kayu gaharu, kayu sapan, rempah-rempah, penyu, emas, perak, dan lada. Barang-barang ini oleh pedagang asing dibeli atau ditukar dengan porselen, kain katun, dan kain sutra.

Dari penelitian arkeologi di wilayah Palembang, ditemukan bukti-bukti yang menunjang data sumber tertulis mengenai komoditas perdagangan masa Sriwijaya seperti di atas. Temuan yang berkaitan dengan sarana perdagangan dan pelayaran berupa pecahan (fragmen) perahu dan mata uang Cina. Selain itu, juga ditemukan beberapa jenis komoditas, misalnya gerabah, keramik, manik-manik, dan damar.

F.H. van Naerssen dan R.C. de Longh, menyatakan ada dua faktor yang menyebabkan Sriwijaya mampu menjaga kelestarian dominasinya atas Selat Malaka yang strategis tersebut. Faktor pertama adalah hubungan pusat kerajaan dengan masyarakat pantai sebagai daerah bawahannya. Faktor kedua adalah adanya hubungan penguasa Sriwijaya dengan negara-negara besar lainnya (Cina dan India).

Hubungan Sriwijaya dengan negara Cina, India, dan Arab terjalin dengan baik. Catatan Hsin-tang-shu dan Sung-shih, banyak mencatat kedatangan utusan dari Sriwijaya. Utusan Sriwijaya pertama kali datang ke negeri Cina tercatat dalam kronik Cina pada tahun 670 M, dan sejak tahun 1178 M, utusan Sriwijaya tidak pernah datang lagi ke negeri tirai bambu ini. Juga tercatat bahwa kapal-kapal Ta-shih (negeri Arab dalam penyebutan orang Cina), banyak berlabuh di pelabuhan-pelabuhan Sriwijaya, dan bahkan di setiap kota dagang yang di bawah kekuasaan Sriwijaya telah ada pemukiman pedagang-pedagang Islam.

Aktivitas pelayaran dan perdagangan di Selat Malaka, sangat menguntungkan kedudukan Sriwijaya. Oleh karena itu, pada masa kekuasaan raja Balaputra Dewa, Sriwijaya membangun ibukota baru di Semenanjung Malaka, yaitu kota Ligor (Prasasti Ligor tahun 775 M). Pendirian ibukota Ligor tersebut bukan berarti meninggalkan ibukota Sriwijaya di Sumatra Selatan, melainkan hanya untuk melakukan pengawasan lebih dekat terhadap aktivitas perdagangan di Selat Malaka atau menghindari penyeberangan yang dilakukan oleh para pedagang melalui Tanah Genting Kra (daerah perbatasan Thailand dan Malaysia).

Ibnu Faqih, dari negeri Arab, yang mengunjungi Sriwijaya tahun 902 M, menyebutkan bahwa kota Sribuza (Sriwijaya) sudah dikunjungi oleh berbagai bangsa. Di pelabuhan Sribuza terdapat segala macam bahasa, yaitu bahasa Arab, Persia, Cina, India, dan Yunani, selain bahasa penduduk aslinya sendiri. Dalam catatan Abu Hasan Ali Al-Mas’udi (dari Arab) yang berjudul Muruju’z-Zahab Wa Ma-Adinu’l-Jauhar tahun 943 M, tercantum keterangan mengenai kerajaan sangmaharaja yang meliputi Sribuza (Sriwijaya), Qalah, dan pulau-pulau lain di Laut Cina. Tentaranya tak terhitung banyaknya. Dibutuhkan waktu dua tahun jika kita akan mengelilingi kerajaan Sribuza. Kerajaan itu banyak menghasilkan tumbuh-tumbuhan dan kayu-kayuan yang wangi, seperti kapur barus, cendana, cengkeh, lada, dan minyak kestruri.

Kekuatan Maritim

Ketika berbicara mengenai Sriwijaya, pasti tidak lepas dari pembicaraan tentang kemaritiman. Tak pelak lagi berdasarkan kisah sejarahnya, Sriwijaya telah malang-melintang di perairan Asia Tenggara sampai ke daerah Madagaskar di selatan benua Afrika. Sebuah kajian masa lampau, memperoleh bukti bahwa banyak nama-nama tempat di pantai Campa dan Annam (Vietnam sekarang) berasal dari bahasa Melayu. Hal ini mendukung pendapat pelayaran orang-orang Melayu ke negeri Cina memang dilakukan oleh pelaut-pelaut Melayu dengan menggunakan perahu sendiri.

Hegemoni Sriwijaya atas Selat Malaka dan Laut Jawa selama berabad-abad sudah tentu harus ditopang oleh armada laut yang kuat. Untuk mendukung kekuatan ini, teknologi perkapalan dan ilmu navigasi harus ada. Salah seorang peneliti Sriwijaya berkebangsaan Perancis, Pierre Yves Manguin, mengatakan Sriwijaya sudah menggunakan kapal-kapal besar dalam jalur perdagangan di Samudra Hindia dan Laut Cina Selatan.

Provinsi Sumatra Selatan menyimpan banyak potensi situs artefak perahu. Hal ini dibuktikan dari 12 situs perahu kuno di Indonesia 5 di antaranya berada di Sumatra Selatan, yakni situs Tanjung Jambu. Samirejo, Kolam Pinisi, Tulung Selapan, dan Karanganyar,

Pada sekitar tahun 1980-an, di satu bagian tebing sungai Lematang di dusun Tanjung Jambu, Kecamatan Merapi Lahat, ditemukan papan perahu kuno yang panjangnya berkisar 3,75 cm, lebar 21 cm, dan tebal 2,4-2,6 cm. Lalu tahun 1987, di Samirejo, di desa Mariana-Musi Banyuasin ditemukan bangkai perahu kuno Pada saat ditemukan kondisi bangkai perahu terletak pada dasar sungai tua yang dahulunya merupakan anak sungai Musi. Ukuran terpanjang papan 10,93 meter dan terpendek 3,5 meter dengan ketebalan 3,5 cm dan lebar 23 cm. Di situs Kolam Pinisi yang terletak di kaki Bukit Siguntang ditemukan juga bekas struktur bangunan perahu yang panjangnya sekitar 2,5 meter dengan ketebalan papan 5 cm dan lebar 20-30 cm. Pada tahun 1992, ditemukan bangkai perahu kuno di dusun Tulung Selapan, OKI. Diduga perahu itu berasal dari abad ke-5 dan ke-8 Masehi. Kemudian di situs Karanganyar (sekarang TPKS) ditemukan potongan papan berukuran panjang 60 cm dengan ketebalan 3 cm.

Mengenai bentuk dan konstruksi kapal pada era Sriwijaya terlihat pada relief-relief (lukisan yang dipahatkan) di dinding Candi Borobudur yang terletak di pulau Jawa. Di antara 11 relief tersebut, menurut pengamatan peneliti van Erp (1923), ada tiga jenis, yakni perahu lesung yang sangat sederhana, perahu lesung yang dipertinggi dengan cadik, dan perahu lesung yang dipertinggi tanpa cadik. Sedangkan van der Heide membuat tipologi berdasarkan jumlah tiang yang dipakai, yakni perahu dayung tanpa tiang, perahu bertiang tunggal tanpa cadik, perahu bertiang tunggal tanpa cadik dengan tiang yang terdiri dari dua buah kaki, perahu bertiang tunggal dengan cadik, dan perahu bertiang ganda dengan cadik. Relief kapal-kapal besar tersebut memperlihatkan variasi dalam bentuk, nampak sekali teknologi pembuatan kapal-kapal Sriwijaya tersebut sudah maju.

Bobot kapal Sriwijaya mencapai 250 sampai 1000 ton, dengan panjang sekitar 40 meter. Kapasitas kapal itu mampu menampung penumpang sampai 1000 orang, belum termasuk muatan barang. Kapal jung Cina yang berlayar pada abad ke-16, ketika kerajaan Sriwijaya sudah punah, diduga merupakan tiruan bentuk kapal Sriwijaya. Karena, sebelum abad ke-9 Masehi, negeri Cina tak pernah punya kapal-kapal antarsamudra seperti yang dimiliki armada kerajaan Sriwijaya.

I-tsing yang mencatat perkembangan kerajaan Sriwijaya pada sekitar abad ke-7 Masehi mengatakan, pelayaran orang-orang Melayu di Sumatra ke negeri Cina memang dilakukan pelaut-pelaut Melayu menggunakan perahu sendiri. Kajian Wolters, dari Cornell University, mengenai abad-abad pra-Sriwijaya pun membawa pada kesimpulan yang dimaksud dengan The Shippers of the “Persian’ trade” adalah orang-orang Melayu. Orang Melayu memang pelaut ulung, sehingga orang Portugis membuat buku panduan laut (roteiros) berdasarkan petunjuk-petunjuk dari pelaut Melayu. Ketangkasan bangsa Melayu sebagai pelaut ulung hingga sekarang masih tersisa, misalnya seperti yang masih dapat disaksikan pada kepiawaian sukubangsa Melayu di masyarakat Palembang yang masih bergelut dengan sungai Musi dan di daerah Kepulauan Riau.

Bukti tertulis mengenai penggunaan perahu sebagai sarana transportasi pada masa Sriwijaya disebutkan dalam prasasti Sriwijaya, berita Cina, dan berita Arab. Prasasti dari zaman Sriwijaya yang menyebutkan penggunaan perahu sebagai alat transportasi utama adalah Prasasti Kedukan Bukit. Dalam Prasasti itu disebutkan bahwa Dapunta Hyang berangkat dari Minanga dengan membawa 20.000 balatentara dan 200 peti perbekalan (logistik) yang diangkut dengan perahu-perahu. Apabila dibandingkan dengan perahu pinisi yang dapat mengangkut 500 orang, maka perahu yang dibutuhkan Dapunta Hyang dalam ekspedisinya tersebut, sekurang-kurangnya dibutuhkan 40 perahu yang seukuran dengan perahu pinisi.

Tidak ada satupun sukubangsa yang berkebudayaan lebih maritim daripada sukubangsa “orang laut”. Sukubangsa ini mendiami daerah-daerah muara sungai dan hutan bakau di pantai timur pulau Sumatra, Kepulauan Riau-Lingga, dan pantai barat Semenanjung Tanah Melayu sampai ke Muangthai Selatan. Mereka hidup di rumah-rumah di atas perahu menjadikan mereka orang laut dalam arti yang sesungguhnya. Berita Cina yang berasal dari tahun 1225 M menguraikan tentang kehidupan rakyat di kerajaan Swarnabhumi (Sriwijaya). Disebutkan bahwa rakyat tinggal di sekitar kota atau di atas rakit yang beratap rumbia. Mereka tangkas dalam peperangan baik di darat maupun di laut. Ketika akan perang dengan kerajaan lain, mereka berkumpul dan memilih sendiri panglima dan pemimpinnya. Walaupun keperluan mereka dipenuhi, semua persenjataan dan perbekalan ditanggung mereka masing-masing. Dalam menghadapi lawan dengan resiko mati terbunuh, di antara bangsa-bangsa lain, mereka sulit dicari tandingannya. Mungkinkah “orang laut” yang mendiami Sumatra bagian timur itu keturunan dari mereka itu?

Sebagai “orang laut”, masyarakat maritim Sriwijaya bergaul dan berdagang dengan berbagai bangsa di Asia Tenggara. Dampak, adanya hubungan dengan daratan Asia Tenggara, membawa suatu kemajuan dalam teknologi pembuatan perahu mereka. Berabad-abad setelah keruntuhan Srwijaya, di seluruh perairan Indonesia sekarang ini, banyak ditemukan reruntuhan perahu atau kapal yang tenggelam atau kandas. Dari reruntuhan itu para pakar perahu dapat mengidentifikasikan teknologi perahu berdasarkan wilayah budayanya, yaitu wilayah budaya Asia Tenggara dan wilayah budaya Cina.

Perahu yang dibuat dengan teknologi tradisi Asia Tenggara mempunyai ciri-ciri khas, antara lain badan (lambung kapal) perahu berbentuk seperti huruf V, sehingga bagian lunas-nya (bentuk bagian dasar yang membulat) berlinggi, haluan dan buritan lazimnya berbentuk simetris, tidak ada sekat-sekat kedap air di bagian lambungnya, dalam seluruh proses pembangunannya sama sekali tidak menggunakan paku besi, dan kemudi berganda di bagian kiri dan kanan buritan. Teknik yang paling mengagumkan untuk ukuran masa kini, adalah cara mereka menyambung papan. Selain tidak menggunakan paku besi, teknik menyambung antarpapan mengikatnya dengan tali ijuk. Sebilah papan, pada bagian tertentu dibuat menonjol. Di bagian yang menonjol ini, diberi 4 lubang, menembus ke bagian sisi tebal. Melalui lubang-lubang itu, tali ijuk kemudian dimasukkan dan diikatkan dengan bilah papan yang lain. Di bagian sisi yang tebal, diperkuat dengan pasak-pasak dari kayu atau bambu. Teknik penyambungan papan seperti ini dikenal dengan istilah “teknik papan ikat dan kupingan pengikat” (sewn-plank and lashed-lug technique).

Sisa perahu yang ditemukan di Samirejo, Mariana, dan Kolam Pinisi di kawasan Palembang, juga sisa perahu yang ditemukan di tempat lain di Indonesia, dan negara jiran (Malaysia), ada kesamaan yang dapat kita cermati, yaitu teknologi pembuatannya. Teknologi pembuatan perahu atau kapal yang ditemukan itu, antara lain; teknik ikat, teknik pasak dari kayu atau bambu, teknik gabungan ikat dan pasak dari kayu atau bambu, dan perpaduan teknik pasak dari kayu dan dari paku besi. Melihat teknologi rancangbangun perahu atau kapal tersebut, dapat diketahui tanggal pembuatannya.

Bukti tertulis tertua yang berhubungan dengan penggunaan pasak dari kayu atau bambu dalam pembuatan perahu atau kapal di Nusantara berasal dari sumber sejarah bangsa Portugis pada awal abad ke-16 Masehi. Dalam sumber itu disebutkan bahwa perahu-perahu niaga orang Melayu dan Jawa yang disebut jung (berkapasitas lebih dari 600 ton) dibuat tanpa sepotong besi pun di dalamnya. Untuk menyambung papan maupun gading-gading hanya digunakan pasak dari kayu. Cara pembuatan perahu dengan teknik tersebut, sampai sekarang masih tetap ditemukan di Indonesia, seperti yang terlihat pada perahu-perahu niaga dari Sulawesi dan dan Madura yang kapasitasnya lebih dari 250 ton.

Kapal-kapal yang dibangun menurut tradisi negeri Cina mempunyai ciri-ciri khas, antara lain tidak mempunyai bagian lunas (bentuk bagian dasarnya membulat), badan perahu atau kapal dibuat berpetak-petak dan dipasang sekat-sekat yang struktural, antara satu papan dengan papan lain disambung dengan paku besi, serta mempunyai kemudi sentra tunggal. Dari sekian banyak perahu kuno yang ditemukan di perairan Nusantara, sebagian besar dibangun dengan teknik tradisi Asia Tenggara. Varian dari kapal-kapal yang dibangun dengan teknik tradisi Asia Tenggara adalah kapal pinisi dan beberapa perahu tradisional di berbagai daerah di Indonesia. Pada perahu pinisi, teknik papan ikat dan kupingan pengikat dengan menggunakan tali ijuk sudah tidak dipakai lagi. Para pelaut Bugis sudah menggunakan teknik yang agak modern, tetapi masih mengikuti teknik tradisi Asia Tenggara. Akan tetapi, jangan dilupakan perahu tradisional yang pernah berlalu-lalang di sungai Musi, yaitu perahu kajang.

Perahu kajang adalah jenis perahu sungai yang dibuat dari kayu dengan ukuran yang terpanjang sekitar 10 meter dan lebar sekitar 3 meter. Sampai sekitar tahun 1980-an, jenis perahu kajang yang berukuran besar masih dimanfaatkan penduduk di daerah hulu Sumatra Selatan, yakni daerah Kayuagung, untuk mengangkut tembikar produk Kayuagung yang dipasarkan di Palembang. Sejalan dengan kurangnya minat masyarakat memakai barang-barang tembikar, kian lama perahu kajang jenis yang besar berkurang jumlahnya, bahkan sekarang dapat dikatakan sudah punah. Data runtuhan perahu Sriwijaya yang ditemukan di situs Samirejo, boleh jadi merupakan jenis perahu kajang yang berukuran besar. Demikian juga yang ditemukan di situs Tulung Selapan, Sungai Buah, dan Kolam Pinisi yang semuanya terletak di kawasan Palembang.

Agama dan Budaya

Sumber pengetahuan tentang agama Budha di Sriwijaya, juga diketahui dari prasasti yang ditemukan dan dari berita-berita luar negeri, yaitu dari orang Cina, Arab, dan India yang mengunjungi kawasan Nusantara dulu. Namun, prasasti-prasasti yang ditemukan di pulau Kalimantan, Sumatra, dan Jawa yang berasal dari abad ke-4 Masehi hingga pra-abad ke-7 Masehi tidak terlalu banyak memberikan informasi. Dari prasasti itu, hanya diketahui bahwa pada waktu itu ada raja-raja yang memiliki nama yang berbau India (indienized), seperti Mulawarman di Kutai dan Purnawarman di Jawa Barat. Tetapi hal itu tidak berarti bahwa raja tersebut berasal dari India. Diperkirakan raja-raja tersebut adalah orang Indonesia asli yang sudah memeluk agama yang datang dari India. Prasasti tersebut menunjukkan bahwa agama yang dipeluk adalah agama Hindu, tetapi berdasarkan penemuan patung-patung Budha periode tersebut, dapat disimpulkan pemeluk agama Budha juga sudah ada, walaupun jumlahnya masih sedikit.

Daerah Sumatra Selatan, terutama Palembang, selama ini dikenal dengan peninggalan arkeologis dari masa Sriwijaya. Tinggalan arkeologis dan artefak yang bersifat keagamaan sebagian besar berasal dari agama Budha, sedangkan dari agama Hindu relatif tidak banyak. Bukti-bukti arkelogis pada masa sekitar abad ke-7 dan ke-9 Masehi, di Sumatra Selatan menunjukkan hadirnya dan perkembangan agama Budha lebih pesat.

Informasi paling tua tentang keberadaan agama Budha di Jawa dan Sumatra didapat dari catatan pendeta Cina bernama Fah-Hien, yang melakukan perjalanan dari Ceylon (Srilanka) ke Cina pada tahun 414 M, karena kapalnya rusak, ia terpaksa mendarat di negeri yang bernama Ye-Po-Ti. Sampai sekarang tidak terlalu jelas apakah Ye-Po-Ti itu pulau Jawa atau pulau Sumatra. Beberapa ahli mengatakan bahwa Ye-Po-Ti adalah pulau Jawa (Jawadwipa). Fah-Hien menyebutkan ada umat Budha di negeri Ye-Po-Ti itu, walaupun cuma sedikit. Sesudah abad ke-7 Masehi, sejarah perkembangan agama Budha di di kawasan wilayah Asia Tenggara mulai jelas.

Tidak sampai tiga ratus tahun kemudian, pada akhir abad ke-7 Masehi, I-tsing mencatat dengan lengkap perkembangan ajaran agama Budha di India dan Melayu. Ketertarikan utamanya pada ‘”rumah agama Budha” di India utara, tempat I-tsing tinggal dan belajar selama lebih dari sepuluh tahun. Selama menetap di Sriwijaya, I-tsing menerjemahkan naskah agama Budha, antara lain, 500.000 stanza kitab Tripitaka berbahasa Sanskerta ke bahasa Cina.

Dari catatan I-tsing diketahui, selain menemukan perbedaan, ia juga menemukan banyak kesamaan antara agama Budha di India dan di Sriwijaya. I-tsing menghabiskan hidupnya, sebagai pendeta, untuk mempelajari agama Budha dan keadan biarawan di India dan Sriwijaya. Tentang kehidupan biarawan ini tercatat di dua karya bukunya, yaitu Nan-hai Chi-kuei Nei-fa dan Tatang Hsy-yu Chiu-fa Kao-seng Chuan. Bila dibandingkan catatan Fah-Hien, catatan I-tsing lebih lengkap mengemukakan perkembangan agama Budha yang telah dibangun dengan sangat cepat di pulau Jawa dan pulau Sumatra.

Pekerjaan I-tsing selain menulis catatan seperti dikemukakan di atas, ia juga menulis buku tentang perjalanan seorang guru agama Budha terkenal yang pergi ke negeri di sebelah barat (Sriwijaya). Diceritakannya, kehidupan biarawan Budha pada intinya hampir sama dengan yang ada di India. Ia mengatakan pendeta dari Jawa dan Sumatra adalah cendikiawan bahasa Sanskerta yang sangat bagus. Salah satunya adalah pendeta Janabhadra dari Jawa yang tinggal di Sriwijaya. Ia merupakan guru bagi pendeta Cina dan membantu menerjemahkan ajaran Budha ke dalam bahasa Cina. Bahasa yang digunakan oleh pendeta Budha di Sriwijaya adalah bahasa Sanskerta. Bahasa Pali (bahasa yang menurunkan bahasa Sanskerta) tidak digunakan. I-tsing menjelaskan, agama Budha yang dipeluk di seluruh Sriwijaya, kebanyakan sistem yang diadopsi adalah Hinayana, kecuali di negeri Melayu ada sedikit umat Budha yang mengadopsi Mahayana.

Aliran Budha Hinayana dan Budha Mahayana mencapai kepulauan di “Laut Selatan” (istlah I-tsing untuk menyebutkan kawasan kepulauan di Sumatra dan Jawa). I-tsing mengatakan, di kawasan ini hampir secara universal aliran Hinayana dan Mahayana diadaptasi. Ia tampaknya tidak mempermasalahkan perbedaan antara penganut keduanya. Dari telaah dua bukunya, I-tsing nampaknya tidak terlalu dalam mempelajari masalah filosofi buddhis, melainkan lebih tertarik pada kehidupan dan tugas-tugas yang diemban oleh para biarawan. I-tsing mengatakan, bahwa Hinayana lebih berkembang di Sumatra dan Jawa. Sedangkan di negeri Melayu yang terletak di tengah-tengah pesisir timur Sumatra, ada pula penganut Mahayana. Dari sumber lain dijelaskan bahwa sebelum kedatangan I-tsing, telah datang pendeta dari India yang bernama Dharmapala ke negeri Melayu dan menyebarkan aliran Mahayana.

Pada awal abad ke-20 Masehi, ditemukan dua prasasti di dekat Palembang yang bercorak Mahayana. Prasasti lain yang ditemukan di Viengsa, Semenanjung Melayu, berangka tahun tahun 775 M, memuat keterangan salah satu raja Sriwijaya dari keturunan Syailendra memerintahkan pembangunan tiga stupa. Ketiga stupa tersebut dipersembahkan kepada Budha, yakni Bodhisatwa, Avalokitesvara, dan Vajrapani. Selain itu, ditemukan plat emas bertuliskan beberapa nama Dyani Budha yang jelas-jelas merupakan aliran Mahayana.

Dari berita I-tsing tersebut, jelas kala itu Sriwijaya menjadi pusat agama Budha. Di Sriwijaya terdapat sebuah lembaga perguruan tinggi Budha yang tidak kalah besar dengan perguruan tinggi di Nalanda, India. Lebih dari 1000 pendeta belajar ajaran Budha. Tata upacara ajaran Budha sama dengan di India, kecuali pengikut Hinayana, di Sriwijaya juga terdapat pengikut Mahayana. Bahkan ada guru Mahayana yang mengajar di Sriwijaya. Dari berita itu, jelas Sriwijaya adalah pusat agama Budha Mahayana yang terbuka dan menerima gagasan baru. Oleh karena itu, ketika musafir-musafir Cina yang ingin belajar di India, pasti singgah dulu di Sriwijaya untuk mengadakan persiapan (belajar) seperti yang dilakukan oleh I-tsing sendiri.

Pada perkembangan selanjutnya, Budha Mahayanalah yang berkembang dan berpengaruh besar. Hal ini terbukti dari beberapa prasasti yang didapat di sekitar Palembang yang menyebutkan Dapunta Hyang berusaha mencari berkat dan kekuatan gaib (sidhayatra) guna keselamatan dan kemajuan kerajaan Sriwijaya, agar segala mahluk dapat menikmatinya. Dari ungkapan yang digunakan, prosesi ritual semacam itu merupakan upacara bangsa Indonesia kuno yang sesuai dengan ajaran Mahayana. Dari berita-berita lain, Mahayana yang berkembang kala itu. Bahkan bukan cuma itu saja, mungkin pengaruh tantra yang di India mempengaruhi agama Budha sejak pertengahan abad ke-7 Masehi juga terdapat di Sriwijaya. Hal ini didapat dari keterangan, salah satu tingkat untuk mendapatkan hikmah tertinggi dalam ajaran Budha adalah wajrasarira; tubuh baja (intan) yang mengingatkan kepada ajaran wajrayana. Semua ini menunjukkan, pada tahap permulaan, masih ada hubungan yang erat antara ajaran Budha Sriwijaya dan India. Hubungan ini makin lama makin mengurang.

Hingga permulaan abad ke-11 Masehi, Sriwijaya masih merupakan pusat pengajaran agama Budha yang bertaraf internasional. Raja Sriwijaya saat itu bernama Sri Sudamaniwarman yang mengaku berasal dari Dinasti Syailendra. Pada saat Sriwijaya mendapat ancaman dari penguasa Jawa, politik Sudamaniwarman adalah mengadakan persahabatan dengan dua negara sebagai kekuatan besar di Asia Tenggara, yaitu kekaisaran Cina dan Chola di India.

Selain elite religius pendeta agung Syakyakirti, pada masa pemerintahan raja Sudamaniwarman, salah seorang pendeta tinggi dan tergolong ahli di Sriwijaya bernama Dharmakirti pernah mengeritik kitab tafsir Budha yang bejudul Abhisamayalandra. Kekritisan seorang Dharmakirti ini pernah menarik seorang pendeta dari negeri Tibet bernama Atisha datang ke Sriwijaya (1011-1023 M) untuk belajar Budha dengan intelektual satu ini. Selain itu, dari berita Cina, Sri Sudamaniwarman pernah mengirim utusan membawa berita bahwa Sriwijaya telah mendirikan bangunan suci Budha untuk memuja agar kaisar Cina panjang umur. Bangunan suci itu kemudian diberi nama Cheng-tien-wa-shou oleh kaisar Cina tersebut.

Dari sumber-sumber arkeologis yang didapat diketahui bahwa pengaruh budaya Hindu-Budha di Sriwijaya tidak hanya berkembang agama Budha saja, tetapi juga agama Hindu. Menilik gaya seni budaya dan agama Hindu yang berkembang di Sumatra pada masa klasik diperkirakan berasal dari sekitar abad ke-7 dan ke-15 Masehi. Dapat diduga agama Hindu telah berkembang juga di Sumatra Selatan, sejak sebelum Sriwijaya melebarkan hegemoni pemerintahannya pada akhir abad ke-7 Masehi.

Keberadaan agama ini dibuktikan dengan ditemukan arca Wisnu yang berasal dari abad ke-7 Masehi di situs Kota Kapur, Bangka. Pada abad ke-10 Masehi, agama ini masih menampakkan keberadaaanya, terlihat dari temuan candi Angsoka dan yoni di daerah Palembang. Pada abad ke- 10 sampai ke-12 Masehi, agama Hindu rupanya mencapai puncak perkembangannya. Hal ini terbukti dengan ditemukannya arca-arca dan kompleks bangunan candi luar kawasan Palembang, yakni di situs Tanah Abang, Muaraenim, Sumatra Selatan.

Jadi, banyaknya akumulasi artefak-artefak bersifat Budha di Palembang sekitar abad ke-7-ke-9 Masehi tidak berarti menghambat perkembangan agama Hindu. Walaupun penganut agama Hindu menjadi minoritas pada Sriwijaya, keberadaannya tetap diakui oleh penguasa Sriwijaya.

KERUNTUHAN KERAJAAN SRIWIJAYA

Serangan dari Jawa

Dunia perdagangan dan pelayaran internasional kerajaan Sriwijaya yang maju pesat dikarenakan kerajaan ini menguasai pelabuhan-pelabuhan strategis yang terletak di sepanjang Selat Malaka disertai kekuatan armada laut yang kuat. Sriwijaya menjalankan politik bersahabat dengan negara-negara tetangganya, walaupun seringkali pula terjadi perperangan yang tidak terelakkan. Misalnya hubungan persahabatan antara Sriwijaya dengan penguasa Jawa telah terjalin sejak zaman raja Rakai Pikatan dari Dinasti Sanjaya. Tetapi ada kalanya terjadi pertentangan di antara kedua negara tersebut.

Peristiwa pertikaian tersebut diberitakan oleh utusan dari Jawa yang sedang berada di negeri Cina yang mengatakan bahwa negerinya sedang berperang dengan kerajaan Sriwijaya, sedangkan pada saat yang sama (988 M), utusan dari Sriwijaya yang tengah berada di Kanton (Cina) tetap bertahan di kota ini, karena mendengar berita bahwa penguasa Jawa (raja Dharmawangsa) dengan Sriwijaya tengah berperang. Penyebab peperangan tersebut karena memperebutkan kawasan lalu-lintas perdagangan di sekitar Selat Malaka yang memang strategis.

Pada waktu wilayah kekuasan Sriwijaya mendapat serangan dari penguasa Jawa, Sriwijaya pernah meminta bantuan pasukan dari kerajaan Chola (Colomandala) di India. Sriwijaya dapat memulihkan kewibawaannya setelah mendapat serangan dari Jawa tersebut serta dapat mengembalikan wilayah kekuasaannya di kawasan Semenanjung Melayu.

Serangan Kerajaan Chola

Pada saat pertikaian antara Sriwijaya dengan Jawa, hubungan antara Sriwijaya dengan kerajaan Chola masih baik. Buktinya, sekitar tahun 1005 M, raja Sriwijaya membangun candi Budha di Nagipattana atau Nagapatam di wilayah kekuasaan kerajaan Chola. Hubungan baik yang dibina raja Sriwijaya, Sri Chulamaniwarmadewa, dengan penguasa Chola tidak berlangsung lama. Karena politik Chola terhadap perluasan kekuatan di lautan seperti yang dilakukan kerajaan-kerajaan kuno sebelumnya yang mengulangi cara-cara yang dipakai untuk mempertahankan monopoli perdagangan mereka.

Tahun 1007 M, kerajaan Chola mulai menyerang ke arah timur. Raja Chola mengklaim bahwa mereka telah menaklukan 12.000 pulau. Ketika raja Chola mangkat pada tahun 1014, sang putra kerajaan Rajendra untuk beberapa tahun tetap bersahabat dengan Sriwijaya dan bahkan memperkuat hadiah yang diberikan ayahnya pada Vihara Negapatam yang dibangun oleh Sriwijaya.

Pada awal abad ke-11 Masehi, peta politik di sekitar Selat Malaka mulai berubah, persahabatan antara Sriwijaya dan Chola berubah menjadi permusuhan. Tahun 1023 M, raja Rajendra menyerang kedudukan Sriwijaya di Kadaram dan Kataha. Pada abad ke-11 Masehi itu, tercatat tiga kali serangan Chola kepada Sriwijaya.

Dalam serangan Chola tahun 1024, lebih ditujukan kepada daerah Semenanjung Malaka. Tetapi serangan Chola itu tidak sampai menghancurkan sama sekali kejayaan Sriwijaya, karena pasukan Sriwijaya mempunyai daerah pertahanan yang terdiri dari banyaknya anak-anak sungai, kawasan berawa-rawa, dan pulau-pulau di wilayahnya.

Tahun 1025 M, pasukan Chola kembali mengadakan serangan besar yang melemahkan kedudukan Sriwijaya. Sebagian besar tempat-tempat ini terletak di Sumatra atau Semenanjung Melayu, tetapi beberapa nama-nama itu belum dapat diidentifikasikan. Tempat yang dapat diidentifikasi dengan pasti adalah Palembang, Melayu (Jambi), dan Pane (pantai timur Sumatra), Langkasuka (Ligor), Takola dan Kedah di daratan Melayu; Tumasik, (sekarang Singapura), Aceh di ujung utara Sumatra, dan kepulauan Nikobar. Namun, serangan dahsyat tersebut, tetap tidak meruntuhkan Sriwijaya, hanya memperkecil daerah kekuasaannya.

Setelah serangan Chola, Sriwijaya kembali dapat membangun menjadi negeri yang besar. Bukti-bukti arkeologis yang ditemukan di daerah Jambi berupa sisa-sisa bangunan suci; sebuah stupa dan beberapa makara. Salah satu dari makara tersebut berangka tahun 1064 M. Bukti lain berupa kronik Sung-shih tetap mencatat adanya utusan-utusan dari Sriwijaya ke negeri Cina pada tahun 1028 M, 1067 M, dan 1080 M.

Jadi, serangan Chola yang dahsyat itu tidak membuat kerajaan Sriwijaya lemah. Namun akibat serangan Chola itu cukup fatal terhadap kekuasaan kerajaan Sriwijaya; kekuatan kerajaan maritim ini mulai menurun dan dominasi kerajaan Sriwijaya atas lalu-lintas perdagangan di selat Malaka lambat laun makin pudar. Sriwijaya sudah tidak mampu lagi mengawasi negeri-negeri bawahannya. Dalam situasi demikian, negeri Melayu yang terletak di Jambi, yang sejak abad ke-7 Masehi menjadi bawahan kerajaan Sriwijaya, menggunakan kesempatan untuk melepaskan dirinya dari kekuasaan Sriwijaya.

Lemahnya kedudukan Sriwijaya setelah serangan Chola tersebut, juga memungkinkan penguasa Airlangga di Jawa Timur (1019 M-1042 M) untuk merebut kembali daerah yang hilang (1006 M) pada era kekuasaan ayahnya, raja Dharmawangsa. Kebijakan politik Airlangga adalah kerjasama dengan penguasa Sriwijaya dalam menghadapi ancaman dan membendung serangan Chola. Penguasa Sriwijaya dan penguasa Airlangga tersebut sepakat mengadakan perdamaian. Tahun 1030 Airlangga kawin dengan puteri Sanggrama Vijayottunggawarman dari Sriwijaya.

Dari tahun 1030 M sampai 1064 M tak ada yang diketahui tentang sejarah Sriwijaya. Tahun 1064, sebuah prasasti berbentuk patung makara, ditemukan di Solok, Sumatra Barat yang berbatasan dengan Jambi, menyebut seorang Dharmavira, tetapi tidak ada yang diketahui tentangnya. Patung itu mengandung bukti-bukti seni Jawa. Rupanya setelah itu upaya Sriwijaya menegakkan kembali kekuasaannya atas Sumatra, tetapi tidak pernah mencapai kekuasaannya yang seperti era sebelumya. Yang jelas, penguasa Sriwijaya dengan Airlangga mencapai suatu kesepakatan untuk membiarkan wilayah kekuasaan Airlangga di bagian barat Nusantara dan Jawa ke timur.

Kebangkitan Kerajaan Melayu

Pertengahan abad ke-11 Masehi, kekuasaan dan kekuatan kerajaan Sriwijaya mulai melemah, negeri Melayu yang selama ini dikuasai Sriwijaya memanfaatkan kesempatan untuk bangkit kembali. Sebuah prasasti yang ditemukan di Srilangka menyebutkan, bahwa pada zaman pemerintahan Vijayabahu di Srilangka tahun 1055 M-1100 M, Pangeran Suryanayana di Malayapura (Melayu) berhasil memegang tampuk pemerintahan di Suwarnadwipa (Sumatra). Hal ini menunjukkan bahwa pada pertengahan abad ke-11 Masehi, negeri Melayu telah berhasil memerdekakan dirinya dari kekuasaan Sriwijaya.

Dengan bangkitnya kembali kerajaan Melayu, maka hilanglah kekuasaan kerajaan Sriwijaya atas Selat Malaka, Sriwijaya semakin mundur. Hubungannya dengan negeri Cina pun makin berkurang. Selama abad ke-12 Masehi, Sriwijaya hanya dua kali mengirim utusan ke negeri Cina, yaitu tahun 1156 dan 1178, setelah itu tidak tercatat lagi ada utusan dari Sriwijaya ke negeri tirai bambu ini.

Pemberontakan Candrabhanu dan Faktor lain

Setelah kerajaan Sriwijaya sudah mulai melemah sejak serangan kerajaan Chola, selain bangkitnya kerajaan Melayu, memberi kesempatan kepada tokoh lain untuk muncul, yakni Candrabhanu.

Wilayah kekuasaan Sriwijaya terlalu luas, sehingga pengawasannya tidak mudah. Sebagian ditempatkan di Kedah sebagai pusat perdagangan di Semenanjung Malaka, sebagian lagi di pusat pemerintahan Sriwijaya di Sumatra. Kekuasaan dan kebesaran Sriwijaya setelah berkuasa selama beberapa ratus tahun mulai melemah, tidak mampu menghadapi semangat Candrabhanu yang tengah berkobar. Candrabhanu berasal dari wilayah Tambralingga yang termasuk daerah makmur. Kemakmuran Tambralingga ini merupakan modal Candrabhanu untuk mengejar kebebasan dan kejayaannya. Kemenangan pemberontakan Candrabhanu terhadap Sriwijaya menobatkan dirinya sebagai raja Tambralingga. Kemenangan terhadap Sriwijaya tersebut, mendorongnya lagi untuk merebut Grahi, suatu tempat di ujung barat Semenanjung yang paling dekat dengan Kedah.

Semangat Candrabhanu untuk mengejar kejayaan dan kebesaran, setelah 17 tahun menguasai Grahi, tetap berlanjut. Tahun 1247 M, ia melakukan ekspedisi militer ke Srilangka. Hasilnya, Candrabhanu berhasil menguasai sebagian negeri Srilangka. Tahun 1258 dan 1263, terjadi serbuan dari pihak bangsa Pandya, Candrabhanu kalah dan mengakui kekuasaan bangsa ini.

Sebelum adanya pemberontakan Candrabhanu terhadap Sriwijaya itu, pada tahun 1183 dikenal nama Mahasenapati Galanai sebagai raja bawahan Sriwijaya, maka 50 tahun kemudian, yakni pada tahun Kaliyuga 4332 (1230 M), di tempat yang sama muncul nama Candrabhanu Sri Dharmmaraja (Sandrabanu Sri Dharmaraja). Nama ini tercatat pada Prasasti Ch’ai-ya yang ditulis dalam bahasa Sansekerta.

Pada tahun 1230 M, Candrabhanu mengeluarkan piagam di Grahi dan menyebut dirinya Tambralinggesywara, maka boleh dipastikan bahwa Candrabhanu memberontak terhadap kekuasaan Sriwijaya. Setelah membebaskan Tambralingga dari kekuasaan Sriwijaya, Candrabhanu mengangkat dirinya sebagai raja Tambralingga dan bergelar Candrabhanu Sri Dharmaraja, kemudian memperluas daerahnya sampai di Grahi. Candrabhanu mengumumkan bahwa ia menjalankan politik-politik Dharmasoka, yakni politik raja Asoka di India. Ia akan berusaha mengembangkan agama Budha. Dengan tegas dinyatakan namanya adalah lambang jasanya kepada segenap manusia. Piagam itu boleh ditafsirkan sebagai proklamasi kemerdekaan negara-negara di pantai-pantai timur Melayu dari kekuasaan Sriwijaya. Timbulnya Candrabhanu berarti patahnya kekuasaan Sriwijaya di Melayu dan juga berakhirnya pemerintahan Dinasti Syailendra di daerah tersebut.

Pemberontakan Candrabhanu terhadap kekuasaan Sriwijaya terjadi antara tahun 1225 M dan 1230 M. Untuk menghindari balas dendam Sriwijaya, politik Candrabhanu adalah memperluas wilayah pemberontakan ke seluruh Semenanjung, dan menikam pusat kekuasaan Sriwijaya di Semenanjung yang terletak di Kedah.

Kedudukan Sriwijaya makin terdesak, karena munculnya kerajaan-kerajaan besar yang juga berkepentingan terhadap jalur-jalur perdagangan maritim, seperti kerajaan Siam (Burma) yang terletak di sebelah utara. Kerajaan Siam memperluas wilayah kekuasaannya ke arah selatan dengan menguasai daerah-daerah di Semenanjung Malaya, termasuk Tanah Genting Kra. Jatuhnya daerah ini mengakibatkan aktivitas pelayaran dan perdagangan di kerajaan Sriwijaya makin berkurang.

Sedangkan dari arah timur juga muncul kekuatan baru, yaitu kerajaan Singasari dari pulau Jawa yang diperintah oleh Raja Kertanegara. Kerajaan Singasari yang bercita-cita menguasai seluruh wilayah Nusantara mengirim ekspedisi militernya tahun 1275 M ke arah barat yang dikenal dengan nama Ekspedisi Pamalayu. Dalam ekspedisi ini, mereka dapat menguasai kerajaan Melayu, Pahang, dan Kalimantan, sehingga kedudukan kerajaan Sriwijaya semakin melemah.

Para pedagang yang melakukan aktivitas perdagangan di kerajaan Sriwijaya kian berkurang, karena daerah-daerah strategis yang pernah dikuasainya jatuh ke dalam wilayah kerajaan-kerajaan di sekitarnya. Akibatnya, para pedagang yang melakukan penyeberangan ke Tanah Genting Kra atau melakukan kegiatan perdagangan sampai ke daerah Melayu yang sudah dikuasai Singasari, tidak dapat lagi melewati daerah perdagangan di wilayah kekuasaan Sriwijaya yang makin sempit. Keadaan ini mengakibatkan berkurangnya sumber penghasilan kerajaan Sriwijaya.

Munculnya kerajaan Singasari dan kerajaan Majapahit di bumi Jawa sebagai kekuatan besar baru di Nusantara, telah menggantikan kebesaran dan kedigjayaan Sriwijaya yang sebelumnya berkuasa di wilayah Nusantara selama berabad-abad.

Menurut babad Mon, serangan dari kerajaan T’ai, di Sukot’ai-Kamboja, merupakan pukulan yang menentukan terhadap wilayah kekuasaan Sriwijaya. Prasasti yang didirikan oleh Rama Khamheng di Sukot’ai tahun 1292 M menyebut bahwa kerajaan Ligor telah berada di bawah pemerintahannya.

Selain serangan-serangan dari negara tetangga dan timbulnya pemberontakan, menurut Budenani di antara, faktor yang mempercepat keruntuhan Sriwijaya adalah serangan para bajak laut (nomad laut) yang selama ini “bekerja sama” dengan penguasa Sriwijaya berbalik arah menyerang sampai masuk ke wilayah inti kekuasan kerajssn Sriwijaya.

Selain faktor politik dan ekonomi yang telah disebutkan, sebagian para ahli ada yang berpendapat lain, penyebab melemahnya kerajaan Sriwijaya adalah faktor alam, yakni terjadinya sedimentasi (pengedapan lumpur pada garis pantai) di muara sungai Musi dan pantai timur Sumatra menyebabkan makin jauhnya ibukota kerajaan Sriwijaya sebagai pusat kekuasaan. Sehingga kontrol penguasa Sriwijaya terhadap pusat-pusat aktivitas perdagangan di daerah pelabuhan-pelabuhan semakin melemah.

Penutup

Kebesaran masa lalu kerajaan Sriwijaya bukanlah hanya sekedar romantisme bangsa Indonesia, khususnya masyarakat Sumatra Bagian Selatan (Sumatra Selatan, Lampung, Jambi, Bengkulu, dan Bangka-Belitung) terhadap eksistensi leluhurnya. Berdasarkan kajian dari peninggalan-peninggalan Sriwijaya yang bersifat artefaktual, maupun sajian dalam berbagai literatur yang membicarakan hal-ikhwal Sriwijaya, tidaklah terbantahkan bahwa pada masanya Sriwijaya memang adalah sebuah kerajaan yang besar.

Keberadaan Sriwijaya sebagai sebuah kerajaan maritim, termasuk salah satu dari kerajaan-kerajaan besar dunia yang jumlahnya memang tidak banyak, memiliki masa rentang kekuasaan panjang yang berkisar tujuh abad lamanya, yakni ± abad ke-7 sampai abad ke-13 Masehi. Sriwijaya selain diakui sebagai sebuah kerajaan terbesar pada masa atau babakan awal penerapan sistem kerajaan (masa klasik) di Nusantara, juga merupakan kerajaan pertama yang mengilhami akan semangat kenusantaraan.

Berdasarkan penelusuran sejarah kebudayaan di bumi Nusantara, sangat logis bila dikatakan Sriwijaya adalah sebuah kerajaan besar di masa itu, karena cikal-bakal kebesaran atau tingginya peradaban manusia di bumi Sriwijaya, memang telah ada, dirintis, dan berlangsung sejak masa Nirleka Indonesia (2000-1000 SM = tradisi Megalitik Pasemah). Kala itu masyarakat di wilayah Dataran Tinggi Pasemah telah memiliki budaya tinggi, kemudian Sriwijaya melanjutkannya.

Jadi, semangat otonomi dan benih-benih demokrasi yang telah diklaim, seolah menjadi ciri kekinian masyarakat dunia saat ini, ternyata telah ada dan dihayati jauh sebelumnya oleh masyarakat di wilayah Sumatra Bagian Selatan, tepatnya sejak masa Pasemah purba dengan tradisi megalitiknya dan pada masa kerajaan Sriwijaya dengan kebudayaan Budha dan Hindu.

Kebesaran Sriwijaya sampai saat ini masih terus bergema. Namun sayang sekali, sampai saat ini, dapat dikatakan sumber-sumber sejarah Sriwijaya masih sangat sedikit yang ditemukan. Bukti-bukti arkeologis, epigrafis, palaeografis, dan referensi tetulis tentang Sriwijaya masih sangat langka dan terbatas, bahkan sebagian besar manuskrip mengenai kajian tentang Sriwjaya justru terdapat di luar negeri. Akumulasi penggalian dan kajian ilmiah yang pernah dilakukan oleh peneliti asing maupun lokal belum bisa mengungkap semua fakta sejarah Sriwijaya. Akibat keterbatasan ini, rekonstruksi sejarah Sriwijaya mengalami banyak kesulitan.

Polemik yang muncul mengenai Minanga, Mukha Upang, nama raja-raja Sriwijaya yang pernah berkuasa, periodesasi, bahkan lokasi pusat pemerintahan kerajaan Sriwijaya sampai saat ini masih terus bergulir. Namun bagi ilmu sejarah, interpretasi dan teori yang berbeda dalam suatu studi sejarah adalah suatu berkah dan anugrah, karena perspektif sejarah sebagai ilmu, di antaranya, bersifat dinamis dan penuh keterbukaan. Asalkan multipendapat tersebut tetap berlandaskan dan didukung oleh data, fakta, teori, dan interpretasi yang objektif, ilmiah, dan rasional sehingga kian mendekati kebenaran sejarah, terutama sejarah Sriwijaya.

Tahun 1988, daerah sekitar Palembang mendapat sorotan tajam dari pakar sejarah Indonesia yang terdiri Dr Hasan Muarif Ambary dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional yang didampingi ahli purbakala Hindu-Budha Soejatmi Sutari, arkeolog Bambang Budi Utomo, arkeolog yang dikirim dari Usaid MI Dr E Edwards Mc Kinnon, dan peneliti perahu kuno Perancis Piere Yves Manguin. Kelima peneliti sejarah dengan disiplin ilmu masing-masing mengadakan ceramah di Palembang pada tahun 1988. Kesimpulan mereka, nilai ilmiah kepurbakalan dari sejarah Sriwijaya, yang berkepentingan terhadap sejarah Sriwijaya bukanlah hanya orang Indonesia pada umumnya dan orang Palembang atau Sumatra Selatan khususnya. Namun lebih dari itu, kedudukan Sriwijaya pada masa lampau abad ke-7 sampai ke-13 Masehi adalah sama pentingnya seperti kerajaan Islam yang berpusat di Baghdad, Asia Barat, ketika dipimpin oleh Harun Al Rasyid.

Apapun pendapat para peneliti mengenai Sriwijaya, yang jelas sampai saat ini, fakta arkeologis dan artefaktual kerajaan Sriwijaya paling banyak ditemukan di wilayah Palembang, sehingga interpretasi dan teori para peneliti mayoritas bertendensi pusat pemerintahan kerajaan Sriwijaya diduga kuat memang berada di Palembang saat ini.

Judul : Kerajaan Sriwijaya
Penulis : Erwan Suryanegara bin Asnawi Jayanegara, dkk.
Penerbit : Dinas Pendidikan Provinsi Sumatra Selatan

Share it

Entri Populer

CATATAN,ILMU,SEJARAH ARSITEKTUR