Arch Efan
Architecture & Design
DonkeyMails.com: No Minimum Payout Aurabila store Visit Indonesia Year 2008 Adsense Indonesia
SIAP MEMBANTU JASA ARSITEKTUR-LANDSEKAP-INTERIOR-3D DESAIN-ESTIMASI

Jumat, 18 Februari 2011

KEJAYAAN KERAJAAN SRIWIJAYA


JAUH sebelum Indonesia memasuki masa sejarah, masyarakat di seantero bumi Nusantara belum mengenal budaya tulis-menulis atau disebut masa Nirleka (tanpa tulisan; pra-aksara; prasejarah). Walaupun masih dalam masa prasejarah, di Sumatra Bagian Selatan, tepatnya di Dataran Tinggi Pasemah, saat itu telah ada kelompok masyarakat yang memiliki kebudayaan tinggi.

Sekitar tahun 2000 Sebelum Masehi (SM) hingga 1000 SM, masyarakat prasejarah yang menetap di Dataran Tinggi Pasemah, sudah mengenal atau menghasilkan karya-karya budaya dengan tradisi megalitik (batu besar). Keberadaan karya-karya budaya tersebut erat kaitannya dengan tradisi atau kepercayaan asli bangsa Indonesia, seperti pemujaan terhadap roh nenek moyang. Hingga kini artefak-artefak peninggalan tradisi megalitik itu, masih dapat dijumpai di sekitar Kabupaten Lahat dan Kota Pagaralam, hingga ke Provinsi Lampung, Provinsi Bengkulu, dan Provinsi Jambi.

Van der Hoop mengatakan tradisi megalitik Indonesia telah dimulai sejak ± 2000 SM. R.P Soejono mengatakan di Nias, Toraja (Sulawesi), Sumba, dan Flores hingga saat ini tradisi megalitiknya masih hidup dan terus berlanjut hingga sekarang (living megalithic tradition), sedangkan artefak Megalitik Pasemah tergolong monumen megalitik yang sudah tidak dipakai lagi (dead monuments).

Temuan-temuan peninggalan dari masyarakat yang memiliki tradisi megalitik di bumi Pasemah ini, sangat beragam jenis maupun jumlah satuannya. Artefak-artefak itu, antara lain, berupa lukisan di dinding bilik kubur batu, gambar di permukaan bongkahan batu dan di dinding batu dengan teknik gores atau toreh (batu bergores dan dinding batu bergores), patung batu, kubur batu, menhir, batu datar, lumpang batu, dolmen, dan batu tegak (kosala). Dari sekian banyak jenis itu, patung (idol=pujaan) Megalitik Pasemah merupakan jenis temuan yang terbanyak jumlah satuannya.

Berdasarkan kajian antropologi, arkeologi, dan seni rupa dapat diketahui, artefak-artefak purba di Dataran Tinggi Pasemah memiliki keunikannya yang khas, dan merupakan hasil karya budaya suatu masyarakat prasejarah yang telah memiliki kebudayaan tinggi. Bahkan, jika merujuk dengan keragaman karya-karya rupa yang telah dihasilkan oleh masyarakat di lereng gunung Dempo kala itu, baik berupa patung, lukisan, gerabah, manik-manik, hiasan (ornamen), dan termasuk arsitekturnya dapat dikatakan bahwa seni rupa di bumi Nusantara mulai, dan terus-menerus mengalami keragaman dan perkembangannya hingga sampai pada seni rupa Indonesia hari ini, berawal dari tradisi Megalitik Pasemah.

Sumatra Selatan Menjelang Masa Sejarah

Letak kawasan pesisir timur Sumatra Selatan dari pendekatan geohistoris punya posisi yang strategis dalam konfigurasi persebaran situs-situs arkeologi di pulau Sumatra. Kedudukan yang terletak antara negeri Cina dan India telah memungkinkan daerah-daerah pesisir di wilayah ini menjadi tempat persinggahan para pedagang dari jalur barat dan timur, pun sebaliknya.

Ahli epigrafi Louis Charles Damais mengatakan, sumber-sumber kesusasteraan asing (luar Indonesia), khususnya dari India, menyebut nama Sumatra, antara lain dari Kitab Milindapanca yang ditulis sekitar abad ke-1 SM, sedangkan Kitab Mahanidesa yang ditulis sekitar abad ke-3 Masehi menyebut nama beberapa pulau, seperti Swarnabhumi (Sumatra), Jawadwipa (Jawa), dan Wangka (Bangka). Demikian pula sumber Cina, antara tahun 245 M sampai 473 M, juga mencatat beberapa nama tempat seperti Tu-po (Cho-ye), Ho-lo-tan, Po-huang, Kan-to-li, dan Ko-ying, yang semuanya terletak di daerah “Laut Selatan” .

Jarak antara “Laut Selatan” dengan negeri Cina sekitar 5000 li. Mengingat catatan tersebut kebanyakan dibuat oleh para pedagang atau musafir dalam pelayarannya dari Cina ke India atau sebaliknya, maka diduga bahwa daerah yang dimaksud dengan “Laut Selatan” dalam catatan Cina tersebut adalah wilayah Indonesia bagian barat, atau terletak di sekitar antara Selat Malaka dan Laut Jawa sekarang. Dalam catatan I-tsing, yang ditulis sekitar abad ke-7 Masehi, terdapat nama-nama daerah yang langsung berhadapan dengan laut atau disebut chou yang terletak di pantai timur Sumatra. Menurut I-tsing, nama-nama tersebut dari arah barat adalah Po-lu-shi, Mo-le-you, Mo-ho-sin, dan Ho-ling. Menurut peneliti Wolters, Po-lu-shi itu identik dengan nama Barus, suatu tempat yang terletak di bagian utara pulau Sumatra. Sementara, peneliti Takakusu menginterpretasikan Mo-ho-sin sebagai nama Mukha Asin yang identik dengan Banyu Asin (Banyuasin).

Walaupun saat itu masyarakat Nusantara belum mengenal tulisan, namun dari catatan di atas diuraikan bahwa pulau-pulau tertentu di Nusantara kala itu sangat subur dan menghasilkan beras, emas, cula badak, kayu cendana, dan komoditas lain. Menurut hasil penelitian, J.L. Brandes, ahli tentang kebudayaan Nusantara, menjelang masuk ke periode sejarah (mulai mengenal tulisan), penduduk Nusantara telah mengenal beberapa kepandaian, yakni dapat membuat figur manusia atau hewan (patung atau arca), mengenal pola-pola hias, mengenal instrumen musik, mengetahui cara mengecor logam, mengembangkan tradisi lisan, mengenal alat tukar, mengenal teknik navigasi, mengetahui ilmu astronomi, melaksanakan irigasi pertanian, dan mengenal tatanan masyarakat yang sudah teratur dan tertata baik.

Munculnya kerajaan Sriwijaya di bumi Nusantara menimbulkan sejumlah pertanyaan, terutama berkaitan dengan masa-masa pra-Sriwijaya. Realitas sejarah menunjukkan pada abad ke-7 muncul sebuah kerajaan (Sriwijaya) yang dalam waktu relatif singkat dapat berkembang menjadi besar dan kuat sehingga memegang peranan dan berpengaruh di kawasan Asia.

Sekitar satu abad menjelang munculnya Sriwijaya, di pesisir timur Sumatra mulai memperlihatkan kemajuan yang berarti. Di Kota Kapur, pulau Bangka (tempat ditemukannya Prasasti Kota Kapur dari masa Sriwijaya), telah ditemukannya dua buah candi (Candi I dan II) yang terbuat dari material batu putih. Hasil penelitian karbon (C14) yang diperoleh dari tempat di bawah reruntuhan candi, memperlihatkan suatu usia (awal abad ke-6 Masehi) yang berarti lebih tua dari umur kemunculan Sriwijaya.

Pada bangunan Candi II, yang tersisa hanya bagian kaki candinya itu, di bagian tengahnya terdapat sebuah batu bulat yang menancap menyerupai menhir. Pada salah satu sisinya, terdapat tanda-tanda adanya saluran kecil semacam somasutra yang menghubungkan antara menhir itu dengan bagian sisi luar bangunan. Pada sisa bangunan Candi I, para peneliti juga menemukan dua arca serta sejumlah pecahan (fragmen) tangan arca. Kedua arca tersebut menggambarkan arca Wisnu yang secara ikonografis (ilmu tentang arca kuno) dapat dikelompokkan sebagai arca-arca produk abad ke-6 Masehi pula.

Selain penemuan yang bersifat artefak aktivitas religius itu, pada tahun 2000-an, di pemukiman transmigrasi Karangagung Tengah, desa Karangmukti dan Mulyo-agung, Kecamatan Bayunglincir, Kabupaten Musi Banyuasin, Provinsi Sumatra Selatan ditemukan situs pemukiman masyarakat kuno yang diduga hidup pada menjelang masa sejarah (abad ke-4 Masehi). Hal ini membuktikan, bahwa sebelum kemunculan Sriwijaya sebagai kekuatan besar di kawasan Asia pada sekitar abad ke-7 Masehi, telah ada masyarakat yang memiliki pemukiman padat di wilayah Sumatra Selatan.

SELANJUTNYA Kerajaan-kerajaan Awal di Nusantara

Share it

Entri Populer

CATATAN,ILMU,SEJARAH ARSITEKTUR